Persepsi Keuangan Syariah Lebih Mahal Dinilai Keliru, Ini Kata MUI

Monday, 27 July 2026

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

dok mui

dok mui

Bisnis Daily | Jakarta – Anggapan bahwa produk dan layanan lembaga keuangan syariah lebih mahal dibandingkan layanan keuangan konvensional dinilai sebagai persepsi yang kurang tepat. Menurut Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI), faktor utama yang memengaruhi biaya pembiayaan bukanlah sistem syariah, melainkan ukuran dan skala bisnis lembaga keuangan.

Semakin besar skala sebuah institusi keuangan, semakin rendah biaya dana (cost of fund) yang dapat diperoleh. Kondisi tersebut membuat lembaga keuangan mampu menawarkan produk pembiayaan dengan harga yang lebih kompetitif kepada masyarakat.

Pernyataan tersebut disampaikan Ketua Badan Pengurus Dewan Syariah Nasional (DSN-MUI), KH M Cholil Nafis, di sela-sela Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII yang berlangsung di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Ahad (26/7/2026).

“Persoalannya bukan syariah atau non-syariah, melainkan ukuran bisnisnya. Semakin besar lembaga keuangan, biaya dana (cost of fund) akan semakin rendah sehingga pembiayaan menjadi lebih kompetitif,” jelas Kiai Cholil.

Literasi Keuangan Syariah Meningkat, Namun Inklusi Masih Rendah

Kiai Cholil menjelaskan bahwa pemahaman masyarakat terhadap ekonomi dan keuangan syariah terus mengalami perkembangan. Peningkatan literasi tersebut menunjukkan bahwa semakin banyak masyarakat yang mengenal konsep perbankan syariah, pembiayaan syariah, hingga berbagai produk keuangan berbasis prinsip syariah.

Meski demikian, peningkatan literasi belum diikuti dengan pertumbuhan inklusi keuangan syariah. Artinya, masih banyak masyarakat yang memahami konsep keuangan syariah, tetapi belum memanfaatkan produk dan layanan yang tersedia.

Saat ini, tingkat inklusi keuangan syariah nasional masih berada pada kisaran 11–12 persen, sementara pangsa pasar (market share) perbankan syariah baru mencapai sekitar 7 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa ruang pertumbuhan industri keuangan syariah di Indonesia masih sangat besar.

Skala Bisnis Menentukan Efisiensi dan Daya Saing

Menurut Kiai Cholil, daya saing harga produk keuangan sangat dipengaruhi oleh besarnya modal dan ekosistem yang dimiliki suatu lembaga.

Institusi keuangan dengan aset yang besar umumnya memiliki efisiensi operasional yang lebih baik. Efisiensi tersebut memungkinkan biaya operasional ditekan sehingga biaya pembiayaan kepada nasabah juga menjadi lebih rendah.

Sebaliknya, lembaga yang masih memiliki skala usaha terbatas cenderung menghadapi biaya dana yang lebih tinggi sehingga ruang untuk memberikan pembiayaan murah menjadi lebih sempit.

Karena itu, menurutnya, pembahasan mengenai mahal atau murahnya produk keuangan sebaiknya tidak hanya dikaitkan dengan sistem syariah maupun konvensional, tetapi juga mempertimbangkan faktor fundamental seperti ukuran bisnis, efisiensi operasional, dan kekuatan permodalan.

KUII VIII Dorong Pembentukan Danantara Syariah

Untuk memperkuat daya saing industri keuangan syariah nasional, Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII mendorong pembentukan Danantara Syariah sebagai langkah strategis dalam mengonsolidasikan berbagai potensi ekonomi syariah.

Inisiatif tersebut dirancang untuk menghimpun potensi investasi syariah nasional yang diperkirakan mencapai lebih dari Rp2.000 triliun. Selain itu, ekosistem ini juga diharapkan mampu mengintegrasikan berbagai instrumen keuangan sosial Islam seperti zakat, infak, sedekah, dan wakaf sehingga pengelolaannya menjadi lebih efektif dan memberikan dampak ekonomi yang lebih luas.

“Kita memiliki potensi yang besar, tetapi belum terkonsolidasi dengan baik. Karena itu perlu ada langkah yang mampu menyatukan kekuatan ekonomi dan keuangan syariah agar manfaatnya lebih dirasakan masyarakat,” tegasnya.[]

Follow WhatsApp Channel bisnisdaily.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Rahasia Ekspansi Bisnis Kuliner Aldi Taher, Tepis Isu Pencucian Uang
Bulog Serap 3,2 Juta Ton Beras hingga Juli 2026
Danantara Tetapkan Delapan Mitra Proyek PSEL Tahap II
HUT Ke-24 Bravo Satria Perkasa, Momentum Tingkatkan Layanan Bisnis
Bisnis Modal Rp500 Ribu? Ini 20 Ide Usaha yang Bisa Dicoba dan Berpotensi Untung
Raih Penghargaan Nasional, Bank Syariah Amanah Ummah Komitmen Berdayakan Ekonomi Umat
50 Ide Bisnis yang Prospek untuk Pemula
DPRD DKI Minta Perizinan OSS Libatkan Pemda, Soroti Usaha di Kawasan Permukiman

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Monday, 27 July 2026 - 11:37

Rahasia Ekspansi Bisnis Kuliner Aldi Taher, Tepis Isu Pencucian Uang

Monday, 27 July 2026 - 11:24

Persepsi Keuangan Syariah Lebih Mahal Dinilai Keliru, Ini Kata MUI

Monday, 13 July 2026 - 20:44

Bulog Serap 3,2 Juta Ton Beras hingga Juli 2026

Monday, 13 July 2026 - 20:39

Danantara Tetapkan Delapan Mitra Proyek PSEL Tahap II

Monday, 13 July 2026 - 18:56

HUT Ke-24 Bravo Satria Perkasa, Momentum Tingkatkan Layanan Bisnis

Berita Terbaru

Bisnis

Bulog Serap 3,2 Juta Ton Beras hingga Juli 2026

Monday, 13 Jul 2026 - 20:44

dok danantara

Bisnis

Danantara Tetapkan Delapan Mitra Proyek PSEL Tahap II

Monday, 13 Jul 2026 - 20:39