Bisnis Daily | Jakarta β PT Danantara Investment Management (DIM) bersama PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera) resmi menetapkan delapan mitra terpilih dalam proses seleksi tahap kedua proyek Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL). Penetapan ini menjadi langkah penting dalam mempercepat pengembangan industri waste-to-energy sekaligus membuka peluang investasi baru di sektor energi bersih dan pengelolaan sampah nasional.
Seleksi tahap kedua mencakup delapan lokasi pengembangan yang tersebar di 20 kabupaten/kota. Namun, penetapan mitra tersebut masih bersifat conditional atau bersyarat hingga seluruh ketentuan pengadaan dan persyaratan proyek dipenuhi.
Director Investment PT Danantara Investment Management sekaligus Chief Executive Officer (CEO) Denera, Fadli Rahman, menegaskan bahwa seluruh proses seleksi dilakukan dengan mengedepankan transparansi dan tata kelola yang baik.
“Seluruh tahapan seleksi dilaksanakan secara objektif, berdasarkan prinsip tata kelola yang baik, serta mengacu pada praktik terbaik internasional,” tegas Fadli Rahman di Jakarta, Senin (13/7).
Seleksi Berdasarkan Kapabilitas dan Kesiapan Investasi
Menurut Fadli, proses evaluasi tidak hanya melihat kemampuan teknis peserta, tetapi juga mempertimbangkan aspek finansial dan kesiapan investasi jangka panjang. Penilaian dilakukan terhadap rekam jejak proyek PSEL, kemampuan pendanaan, kecepatan implementasi dan komersialisasi proyek, strategi mitigasi risiko, hingga pengalaman pelaksanaan proyek di Indonesia.
“Untuk memastikan independensi dan kualitas proses, kami menunjuk penasihat teknis, hukum, dan komersial independen yang mendampingi keseluruhan tahapan evaluasi,” ujar Fadli.
Pendekatan tersebut diharapkan mampu menghasilkan mitra yang tidak hanya memiliki teknologi yang mumpuni, tetapi juga memiliki kapasitas untuk merealisasikan proyek secara berkelanjutan.
Delapan Mitra Terpilih untuk Proyek PSEL
Berikut delapan mitra yang ditetapkan sebagai calon pengembang dan pengelola proyek PSEL tahap kedua:
- SUEZ-IAN Consortium (SUEZ Insan Asia) untuk proyek Medan Raya.
- Consortium Everbright Cemerlang Energy (Everbright Harmoni) untuk proyek Kabupaten Bekasi.
- Bumi Biru Indonesia (SUS Indoplas) untuk proyek Lampung Raya.
- Masa Depan Energi Indonesia (Chandra Waste Energy BGE) untuk proyek Serang Raya.
- Veolia Environmental Services Asia Pte. Ltd (Veolia) untuk proyek Semarang Raya.
- Consortium Mentari Citra Lestari (Bakrie Power SUS) untuk proyek Surabaya Raya.
- MPM-CEVIA Consortium (Mega Power CEVIA) untuk proyek Bogor Raya 2.
- Cakra Energi Lestari Consortium (Pertamina NRE Tianjin CITICC) untuk proyek Yogyakarta Raya.
Komposisi mitra tersebut menunjukkan tingginya minat investor domestik maupun internasional terhadap sektor pengelolaan sampah menjadi energi di Indonesia. Empat konsorsium dipimpin perusahaan Indonesia, sementara dua dipimpin perusahaan asal Prancis dan dua lainnya dipimpin perusahaan asal China.
Fadli menilai kolaborasi tersebut akan memperkuat pengembangan industri nasional melalui pemanfaatan teknologi global.
“Seluruh konsorsium itu menggandeng mitra teknologi internasional untuk mempercepat implementasi proyek sekaligus mendorong transfer teknologi dan penguatan industri nasional,” ujar Fadli.
Persaingan Ketat dalam Seleksi Proyek
Proses seleksi berlangsung kompetitif. Dari 85 perusahaan yang masuk dalam Daftar Penyedia Terseleksi (DPT), sebanyak 68 aplikasi diajukan untuk memperebutkan delapan lokasi proyek.
Hasil evaluasi menetapkan satu mitra utama dan satu mitra cadangan untuk setiap lokasi. Mitra utama selanjutnya akan menerima Conditional Letter of Award (CLoA) sebagai penetapan bersyarat sebelum memperoleh status resmi sebagai pengembang dan pengelola proyek.
Mitra cadangan disiapkan sebagai alternatif apabila mitra utama tidak mampu memenuhi seluruh persyaratan yang telah ditentukan.
Tahapan Menuju Final Letter of Award
Setelah menerima CLoA, setiap mitra wajib menyelesaikan sejumlah tahapan penting sebelum memperoleh Final Letter of Award. Tahapan tersebut meliputi penyusunan studi kelayakan (feasibility study) yang disepakati kedua belah pihak, finalisasi struktur proyek, pembentukan perusahaan patungan (Joint Venture Company), penyelesaian dokumen komersial, hingga memperoleh persetujuan pembiayaan.
Rangkaian proses tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan proyek PSEL memiliki struktur bisnis yang kuat, layak secara finansial, dan siap memasuki tahap konstruksi.
Indonesia Makin Dilirik Investor Energi Bersih
Chief Executive Officer (CEO) PT Danantara Investment Management, Pandu Sjahrir, menilai tingginya partisipasi perusahaan waste-to-energy kelas dunia menjadi sinyal positif terhadap iklim investasi Indonesia, khususnya pada sektor energi terbarukan dan infrastruktur lingkungan.
“Kami melihat ini sebagai peluang untuk mempercepat transfer teknologi, membangun kapasitas nasional, dan memperkuat ekosistem industri pengelolaan sampah di Indonesia.βujar Pandu.
Masuknya perusahaan-perusahaan global dalam proyek PSEL juga mencerminkan meningkatnya daya tarik Indonesia sebagai tujuan investasi hijau (green investment). Selain berpotensi mengurangi persoalan sampah di berbagai daerah, proyek ini diharapkan mampu menciptakan nilai tambah ekonomi melalui produksi listrik berbasis limbah, pengembangan industri pendukung, serta peningkatan investasi di sektor energi bersih.[]
Editor : Fathurroji







Komentar