BisnisDaily.id | Ponorogo – Kegiatan FORBIS National Economic Summit and Expo 2026 yang digelar selama tiga hari, 19–21 Juni 2026, di Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), Ponorogo, Jawa Timur berjalan sukses. Kegiatan yang diinisiasi Forum Bisnis Ikatan Keluarga Pondok Modern (FORBIS IKPM) Gontor ini berhasil mencatatkan total nilai transaksi mencapai Rp10,5 miliar.
Nilai tersebut berasal dari transaksi penjualan langsung yang dilakukan oleh sekitar 70 peserta expo dari berbagai sektor usaha, serta sejumlah kesepakatan kerja sama strategis yang dituangkan dalam bentuk Memorandum of Understanding (MoU).
Secara umum, pameran bisnis sering dipahami sebagai ajang promosi produk. Namun dalam praktiknya, expo bisnis modern juga menjadi ruang bertemunya pelaku usaha, investor, akademisi, lembaga pendidikan, hingga komunitas untuk membangun kemitraan.
Hal itu tercermin dalam penyelenggaraan FORBIS National Economic Summit and Expo 2026. Selain transaksi penjualan, forum ini memfasilitasi penandatanganan 11 nota kesepahaman (MoU) sebagai landasan kerja sama di berbagai bidang, mulai dari pendidikan, pengembangan usaha, hingga penguatan jaringan ekonomi pesantren.
Beberapa kerja sama tersebut melibatkan FORBIS IKPM Gontor dengan Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor, UIN Raden Mas Said Surakarta, Forum Pesantren Alumni Gontor (FPAG), FORMAQIN, serta sejumlah perusahaan dan pondok pesantren lainnya.
Kehadiran berbagai MoU ini menunjukkan bahwa nilai ekonomi sebuah forum bisnis tidak hanya berhenti pada transaksi tunai, tetapi juga menciptakan peluang investasi, pengembangan usaha, dan kolaborasi yang manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.
Membangun Kemandirian Ekonomi Pesantren
Salah satu pesan utama yang mengemuka dalam kegiatan ini adalah pentingnya membangun kemandirian ekonomi pesantren melalui jejaring alumni dan dunia usaha.
Ketua Panitia Peringatan 100 Tahun Gontor yang juga Rektor UNIDA Gontor, Prof. Dr. KH. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A.Ed., M.Phil., mengapresiasi kontribusi para alumni yang memilih berkiprah di dunia bisnis tanpa meninggalkan misi pendidikan.
“Meskipun alumni Gontor menjadi pebisnis, mereka juga mendirikan pesantren-pesantren. Ini merupakan ketaatan terhadap pesan KH. Imam Zarkasyi, bahwa di manapun kalian berada dan apapun profesinya jangan lupakan mengajar,” kata Prof. Hamid seperti dirilis forbis.id.
Pernyataan tersebut mencerminkan filosofi yang telah lama menjadi karakter pendidikan Gontor, yakni memadukan pengabdian kepada masyarakat dengan kemandirian ekonomi. Dalam konteks ini, bisnis dipandang sebagai sarana memperkuat dakwah dan pendidikan, bukan sekadar aktivitas mencari keuntungan.
Dari Wakaf Produktif Menuju Ekosistem Ekonomi
Perjalanan FORBIS sendiri menunjukkan bagaimana jejaring alumni dapat menjadi motor penggerak pembangunan ekonomi berbasis pesantren.
Pada peringatan 90 tahun Gontor tahun 2016, FORBIS dibentuk sebagai wadah kolaborasi para alumni yang bergerak di bidang usaha. Seiring waktu, organisasi ini berkembang menjadi jaringan bisnis yang tidak hanya mempertemukan pelaku usaha, tetapi juga mendorong lahirnya berbagai program ekonomi produktif.
Keberhasilan tersebut telah terlihat pada kegiatan tahun sebelumnya. Dalam acara gala dinner peletakan batu pertama pembangunan gedung New BPPM, FORBIS berhasil menghimpun komitmen dana wakaf sekitar Rp7 miliar hanya dalam satu malam.
Kini gedung tersebut telah berdiri dan dimanfaatkan oleh santri, alumni, maupun masyarakat umum sebagai bagian dari rangkaian Peringatan 100 Tahun Gontor.
Model seperti ini menunjukkan bahwa dana wakaf tidak hanya berfungsi sebagai instrumen sosial-keagamaan, tetapi juga dapat dikelola secara produktif untuk mendukung pembangunan fasilitas pendidikan dan pemberdayaan masyarakat.
Membangun Ekonomi Berjamaah
Ketua Umum FORBIS IKPM Gontor, H. Agus Maulana, menjelaskan bahwa capaian tahun ini merupakan langkah awal dalam membangun ekosistem ekonomi berjamaah yang profesional.
Menurutnya, masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan, terutama dalam mengoptimalkan aset-aset wakaf agar mampu menghasilkan manfaat ekonomi yang lebih luas.
“Kami bersyukur pada peringatan 100 tahun Gontor ini, peran FORBIS mulai menunjukkan peningkatan signifikan. Meski demikian, pekerjaan kami ke depan masih banyak. Ini baru awal dari sebuah permulaan. Optimalisasi lahan wakaf dengan membangun ekosistem ekonomi berjamaah masih menjadi PR kami selanjutnya,” kata Agus Maulana.
Konsep ekonomi berjamaah sendiri menekankan pentingnya kolaborasi dibanding kompetisi semata. Pelaku usaha saling memperkuat melalui jaringan pemasaran, pendampingan bisnis, akses pembiayaan, hingga pengembangan sumber daya manusia.
Pendekatan seperti ini dinilai mampu memperbesar peluang usaha kecil dan menengah untuk berkembang sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi komunitas.
Regenerasi Pengusaha Muda Menjadi Harapan Baru
Hal lain yang menjadi sorotan dalam National Economic Summit and Expo 2026 adalah meningkatnya partisipasi pengusaha muda dari kalangan alumni Gontor, khususnya generasi Z.
Kehadiran mereka dipandang sebagai sinyal positif bagi keberlanjutan organisasi dan pengembangan ekonomi pesantren di masa depan.
Di tengah perubahan teknologi dan ekonomi digital, generasi muda memiliki peluang besar untuk menghadirkan inovasi melalui pemanfaatan platform digital, pemasaran daring, hingga model bisnis berbasis teknologi.
Namun yang menarik, para pengusaha muda tersebut tetap membawa semangat yang menjadi ciri khas alumni Gontor, yakni menjadikan bisnis sebagai bagian dari perjuangan untuk kemaslahatan umat.
Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa dunia usaha tidak diposisikan hanya sebagai instrumen akumulasi keuntungan, melainkan sebagai media untuk menciptakan lapangan kerja, memperkuat lembaga pendidikan, mengembangkan ekonomi masyarakat, serta mendukung misi Li i’lai Kalimatillah atau menegakkan kalimat Allah.
Model Kolaborasi yang Layak Dikembangkan
Keberhasilan FORBIS National Economic Summit and Expo 2026 memberikan pelajaran bahwa penguatan ekonomi pesantren memerlukan sinergi antara pendidikan, kewirausahaan, dan jejaring alumni.
Dengan transaksi mencapai Rp10,5 miliar, puluhan pelaku usaha yang terlibat, serta lahirnya berbagai kerja sama strategis, forum ini menunjukkan bahwa pesantren memiliki potensi besar sebagai pusat pertumbuhan ekonomi berbasis nilai.
Apabila model kolaborasi seperti ini terus dikembangkan, bukan hanya akan memperkuat kemandirian lembaga pendidikan Islam, tetapi juga dapat menjadi contoh bagaimana ekonomi komunitas dibangun melalui semangat gotong royong, profesionalisme, dan keberlanjutan.[]







Komentar